Jumat, 17 Januari 2014

Cerpen = Maafkan Aku !!



Ebiethya Saverio Rabbani, itulah pacarku.  Sudah 2 tahun aku bersamanya. Sungguh berartinya Ebie untukku karena dia sangat sangat baik denganku maupun dengan orang tuaku. Malam ini dia akan datang menemuiku,  tersenyum dengan hangat dan duduk di sampingku. Aku sangat tak berdaya ketika melihat tatapan matanya, tatapan yang  hangat, penuh harap dan selalu bisa membuatku memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, dan aku tidak ingin kehilangan dia, meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Aku akan tetap memaafkan Ebie, meskipun dia sering menghianati aku. 

Aku gak tahu harus bilang apa lagi sama kamu, ini sudah kesekian kalinya kamu ngeduain aku. Kamu sudah mengkhianati aku berulang kali!” Kataku.
Aku tidak sanggup melihat matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat. 

“Maafin aku flo, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi yah!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Ebie, aku sangat mencintainya. Malam ini Ebie menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Kutemui Ebie di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku. 

“Flo, kamu cantik banget malam ini.”
“Makasih Ebie. Kita jadi dinner kan?”
“Ya tentu, tapi flo maaf ya malam ini aku gak bawa motor, kamu gak keberatankan kalau  kita naik Taksi?”
“Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.” 

Dengan bahagianya aku menggandeng tangan Ebie dan ini benar-benar sangat menyenangkan, disepanjang perjalanan Ebie menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Ebie menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Ebie perbuat padaku. 

Kami berhenti disebuah restoran kecil yang letaknya lumayan jauh dari tempat aku bertemu dengan Ebie. Tapi kenapa Ebie memilih restoran ini, aku sangat tahu apa makanan yang sangat disukai dan tidak disukai Ebie. Ya, Ebie sangat tidak suka dengan sushi. Segala jenis sushi dia tidak suka. Tapi entah kenapa dia memilih restoran kecil yang menyediakan segala macam sushi. 

“Kenapa kamu pilih restoran ini bie, aku tahu kamu tidak suka dengan sushi?”
“Gak apa-apa kok Flo, aku sengaja pilih restoran ini karena aku juga sangat tahu kalau kamu sangat menyukai sushi. Aku cuman mau nebus kesalahan aku yang telah aku perbuat selama ini ke kamu”.
“Tapikan Bie?”
“Udahlah Flo, aku mau buat kamu senang. Ya sudah, ayo kita masuk.”

Setelah masuk ke dalam dan mencari tempat duduk yang pas di pojok kanan. Tiba-tiba aku melihat sesosok wanita yang baru masuk depan pintu. Aku kenal sekali dengan wajahnya yang begitu cantik dengan menggunakan gaun peach dan sepatu high heelsnya. 

“DINDA! Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dengan dia ditempat ini bersama EBie. ” kataku dalam hati.
“Bie, ayo kita pergi sekarang. Kita cari tempat makan yang lain aja Bie, please?”
“Loh emang kenapa Flo, aku udah pesen makanannya loh, gak enak kalau tiba-tiba kita pergi gitu aja.”
“Yaudah biar aku yang bayar makanannya, tapi kita harus tetap pergi dari tempat ini.”

Menghindari Dinda itu sangat penting. Kenapa? Karena dia adalah mantan kekasih EBie, aku tahu dia masih sangat menyukai EBie, untuk itu aku harus menghindari EBie sebelum Dinda melihatnya. 

“Bie, tadi tuh di restoran itu ada Dinda. Kenalkan ?”
“Loh, kenapa bukannya disapa atuh Flo? Bagus dong kalo nanti kita makan sama-sama sama Dinda”
“EBIE!! Apaan sih kamu ini, aku sengaja umpetin kamu biar kamu enggak ketemu sama Dinda! Aku takut, kamu berpaling lagi dari aku!”
Flowieee!! Kamu mau kemana hey, tunggu akuuuu!”

Aku jalan cukup jauh dari EBie, dia mengejarku. Tak berselang lama terdengar suara cukup keras dari kejauhan dan  seketika segerombolan orang datang mendengar dan melihat apa yang terjadi barusan. Karena aku penasaran, aku dekati pelan-pelan tempat terjadinya itu. Dengan sangat kaget luar biasa, aku berteriak sekencang-kencangnya dan memeluk EBie. Ya, Ebie tertabrak truk yang sedang melintas, dia ingin menyebrangi jalan raya untuk mengejarku.
“EBiethya, maafin aku!”
“Flowie. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……”
“EBieeeeeeeeeeeee……”

EBie meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku tidak marah pada EBie semua ini tak akan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. EBie menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi tangan, dan tubuhku. Rasanya aku ingin sekali menemani EBie didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan. Aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, dan aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
Bieeee, maafkan aku Bie aku menyesal Bie dengan ini semua Bie!!”..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar