Jumat, 17 Januari 2014

Intensitas Banjir Jakarta sebelum dan sesudah JOKOWI menjadi Gubernur DKI Jakarta

Hujan bagi sebagian orang adalah berkah. Namun, jika datangnya berlebih, apalagi dengan kondisi saluran air yang semrawut seperti di Jakarta, banjir adalah akibatnya.  Masih banyak yang harus dikerjakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ( Jokowi ) agar banjir tak terjadi di Jakarta, seperti normalisasi waduk, sungai dan pembuatan sumur resapan. Soal normalisasi ini pun tak hanya 'tinggal keruk'. Ada proses pembebasan lahan yang diakui Jokowi menjadi kendala. 

Hujan deras yang mengguyur Jakarta pada Rabu, 8 Januari 2013, menimbulkan genangan air di sejumlah titik. Berdasarkan pantauan kawasan Tugu Tani, Kramat Raya, dan di dekat Megaria, Cikini, juga ikut terendam air ketika terjadi hujan deras. Semalam, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo malah sengaja keluar dari kantornya saat hujan deras untuk melihat area yang terendam air. “Tadi saya lihat yang paling parah di sekitar Universitas Tarumanegara, Grogol,” katanya di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 8 Januari 2013.

Jokowi mengaku sudah memanggil Kepala Dinas Pekerjaan Umum Manggas Rudy Siahaan untuk membicarakan masalah itu. “Mungkin salurannya masih tersumbat sampah atau sedimen, biar bisa langsung dibersihkan,” katanya. Menurutnya, pembuatan sumur resapan di Jakarta juga belum banyak berpengaruh terhadap daya serap air Ibu Kota. “Baru juga dibuat 1.000, nanti kalau sudah ada satu atau dua juta sumur resapan, baru terasa manfaatnya,” ujar mantan Wali Kota Surakarta itu. Selain memperbaiki infrastruktur untuk mencegah banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga akan merekayasa cuaca untuk mengatur curah hujan di Jakarta. Jokowi menyebutkan anggaran yang disiapkan untuk rekayasa cuaca itu mencapai Rp 18 miliar. Namun, dana dalam RAPBD 2014 itu belum ditetapkan oleh DPRD DKI Jakarta

Kepala Bidang Perawatan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Djoko Soesetyo mengungkapkan, ada perbedaan signifikan di antara Fauzi Bowo dengan Joko Widodo yaitu :
1. Pada saat Fauzi Bowo menjadi Gubernur tahun 2009 pengerukan kali, sungai dan wadukmenggunakan tenaga manusia, makanya butuh waktu lama untuk mengerjakannya.
2.    Pada tiga tahun pertama kepemimpinan Foke, menganggarkan 1, 677 T untuk membiayai Program penanggulangan banjir
3.     Tembusnya Kanal Banjir Timur (KBT) ke Laut. Dalam waktu 2 tahun, ia dapat membebaskan tanah 4.600 m2 . KBT tembus ke Laut Jawa pada akhir 2009 , berfungsi sepajang 23,57 kilometer, dengan lebar bervariasi antara 100 -200 meter dan kedalaman 3,7 meter. KBT mampu mengatasi kawasan genangan air di Timur dan Utara Jakarta. Selain itu, data dari dinas Pekerjaan Umum menyatakan bahwa pada masa ini, Pemerintah DKI telah membebaskan 18 dari 78 kawasan genangan air, dan telah membebaskan 33 dari 106 genangan air di Jalan.
4.  Pada saat Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta 2013-2014, Jokowi dinilai lebih rajin sowan kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum. Tidak hanya itu, Jokowi juga aktif melakukan komunikasi dengan pemerintah kota di sekitar Jakarta. Jokowi juga lebih rajin mencari cara mengatasi banjir dengan bekerja sama dengan instansi negara.  Normalisasi sungai dianggap sangat penting karena penumpukan sampah di dasar sungai sudah melebihi  batas sehingga jika hujan tiba, banjir tidak dapat terhindarkan karena sungai tidak mampu lagi  menampung debit air yang terus bertambah. Jokowi juga berencana untuk membuat waduk besar di Ciawi dan Cimanggis, Jawa Barat. Banyak warga Jakarta yang berasumsi bahwa bencana banjir yang melanda Ibu Kota merupakan "banjir kiriman" dari Bogor, Jawa Barat. Padahal, penyebabnya adalah ketidak displinan mereka yang sering membuang sampah sembarangan.
5.  Pembuatan sumur serapan sebanyak-banyaknya dari hulu hingga hilir. Diharapkan, hal ini berguna untuk mengurangi aliran air yang masuk ke Jakarta. Langkah selanjutnya adalah pembuatan sejumlah pompa air di Jakarta Utara dimaksudkan untuk mengurangi genangan air di Jakarta Utara.

6.    

5.            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar